Sunday, July 16, 2017

Kisah Nyata Akibat Pesugihan bulus jimbung meninggal

Kisah Nyata Akibat Pesugihan bulus jimbung meninggal
Lukisan Tjitro Waloeyo yang berjudul Bulus Jimbung melukiskan orang yang berpedoman pengetahuan pesugian Bulus Jimbung. Langkahnya yaitu dengan datang kesuatu tempat didaerah Klaten, sekitaran Rowo Jombor. Di sana ada satu kolam tempat seekor bulus menekuni. 

Di sana ada seseorang juru kunci. Sesudah menjumpai juru kunci serta terima keterangan prasyarat serta konsekwensinya, si pemohon kekayaan juga akan diminta menceburkan diri kedalam kolam. Apabila telah dijilat binatang bulus, atau sudah menyentuh air, kulitnya juga akan belang keputihan. 

Kisah Nyata Akibat Pesugihan bulus jimbung meninggal



Hal semacam ini mengisyaratkan maksudnya telah terwujud. Ia bisa pulang kerumahnya serta nikmati kekayaan yang datang selalu seperti belang pada kulitnya yang makin melebar. Apabila belang itu sudah menutupi sekujur badannya, matilah orang tersebut 

Bulus jimbung adalah satu diantara hewan bulus yang familier dimaksud di lokasi Jawa Tengah. Cerita riil mengenai pesugihan yang sering dibicarakan beberapa orang memanglah jadi daya tarik sendiri mengenai ada bulus jimbung di daerah kalikotes, Klaten. Konon dari tempat berikut cerita riil pesugihan bulus jimbung berawal. Bulus yang disebut hewan semacam kura-kura ini diberi nama dengan sebutan “jimbung” karna ada di satu sendang di lokasi Desa Jimbung. Pada intinya sendang yang ada di kabupaten klaten ini nyaris sama juga dengan sendang beda. Walau demikian narasi tentang ritual pesugihan yang sering dikerjakan oleh beberapa orang ditempat ini terang memberi warna sendiri dalam bercerita kehadiran serta kemistikan sendang Jimbung. Tidak heran bila pada masing-masing hari tempat ini banyak dikunjungi orang-orang baik dari kabupaten klaten sendiri ataupun dari kota beda yang termasuk juga lokasi Jawa Tengah, Jawa Timur, ataupun Jawa Barat. 


Walau tidak kebanyakan orang yang bertandang ke sendang Jimbung adalah beberapa aktor ritual pesugihan tetapi orang-orang jawa yang memanglah dari dahulu begitu meyakini ada klenik begitu tertarik juga akan narasi ataupun cerita riil pesugihan bulus jimbung dari klaten ini. Sesudah kami menyatukan data serta rujukan tentang narasi ini pada akhirnya dari sumber yang bisa kami yakin kita peroleh sebagian kenyataan yang menarik untuk kita kenali. Konon beberapa aktor ritual pesugihan di tempat ini mesti lakukan persekutuan serta kesepakatan spesifik dengan jin yang berkunjung di sendang jimbung. Sesaat untuk memulai ritual beberapa aktor umumnya juga akan membawa ubo rampe berbentuk kemenyan, iwak ingkung, serta sesaji beda manfaat mensupport prosesi ritual yang juga akan dikerjakan di pinggir sendang itu. 

Dari sumber itu juga kami peroleh info kalau ada seorang yang sering dikatakan sebagai juru kunci sendang jimbung yang nanti juga akan memandu sistem ritual dengan nominal tarif serta harga atau mahar spesifik. Demikianlah cerita riil pesugihan bulus jimbung yang sering diperbincangkan masyakarat jawa baik jateng, jawa timur, ataupun jawa barat. 

Tempat Pesugihan – Kesempatan ini saya mengajak Anda untuk mengetahui satu lokasi yang kononya orang yang datang kesana sebagian besar mereka inginkan kekayaan dengan praktis atau nama yang lain yaitu Pesugihan. Tetapi, gosip yang di terima oleh Tim redaksi kami kalau ada Tempat Pesugihan yang namanya Buyut jimbung di kabupaten Klaten, isunya Pemiliknya Juga akan Cacat Seumur Hidup. Apakah benar itu? 

Mengenai Tempat Pesugihan Buyut Jimbung di klaten 

Tempat pesugihan Buyut Jimbung yaitu nama satu tempat yang konon dapat memberi kekayaan lewat cara amat cepat pesugihan. Tempat Tempatnya terdapat di kabupaten Klaten. Tempat satu ini banyak menarik perhatian dari sebagian pencari pesugihan. Beberapa besar datang dari luar warga setempat. Bahkan juga ada juga yang datang dari kota-kota besar yang jauh, seperti Bandung, Jakarta, Medan, Bangka, dan Surabaya. Di tembok sendang Jimbung sendiri saat ini terdaftar kalimat berupa pemberitahuan, yang berbunyi : “Sendang Ini Tidaklah Tempat Pemusrikan”. Tetapi tetap masih saja masih tetap terlihat ada sisa tanda tanda yang digunakan memuja penunggu ‘Sendang Jimbung’. 

Tanda tanda sisa pemujaan itu terlihat ada satu gelas air putih yang didalamnya di isi kembang setamn, kemenyan Jawa yang telah dibakar serta sebungkus kain kafan putih. Tidak tahu apa yang ada di dalam bungkusan kain kafan putih itu. Sedikitnya pemandangan itu tunjukkan bila sendang satu ini memanglah benar-benar tempat memuja roh kegelapan. Penasaran dengan sosok yang disebut Eyang Poleng, Misteri cobalah mendatangi satu di antara sesepuh warga di sana, yakni Bapak Projo Sugito. Lelaki ini sisa Kepala Desa dua periode. Misteri diterima dengan hangat olehnya. 

Menurut Ayah itu, demikian panggilan akrab sisa Kades itu, Eyang Poleng yakni sosok sakti ketika kerajaan Mataram. Dia juga sosok yang disegani oleh pihak kerajaan Mataram. Masing-masing kerajaan Mataram alami pergolakan, jadi Eyang Poleng itu pasti dilibatkan. Panggilan waktu mudanya yakni Joko Poleng. Satu di antara kesaktiannya yakni bisa mengubah dirinya berupa apapun, tidak terkecuali jadi seekor bulus. Mitos menyebutkan ia yaitu satu di antara sosok yang dicintai oleh Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan. Dengan hal itu tidak aneh jika ia memiliki kesaktian yang tak ada tara, bahkan juga dapat juga juga Eyang Poleng masuk dalam grup manusia 1/2 siluman. 

Permulaannya, terlebih dulu ia masuk dalam jejeran orang sakti di bumi Mataram, Joko Poleng yakni seorang pengembara. Dalam pengembaraannya ia hanya seorang diri. Dikisahkan, satu waktu dalam perjalanan ia diundang beberapa kumpulan perampok didalam rimba belantara di tenga-tengah rawa yang saat itu masih tetap sunyi senyap yaitu Rawa Jombor. 

Sebagian perampok itu juga akan merampas barang-barang yang dibawa Joko Poleng. Namun mereka dapat dikalahkan oleh sang pengembara barusan. Sejak mulai saat itu Joko Poleng tinggal di daerah Rawa Jombor, persisnya di dukuh Jimbung. “Ketika juga akan tinggal di Jimbung merasa ada yang kurang yaitu tempat mandi, jadi ia buat sendang. Lantas sendang itu digunakan untuk mandi Joko Poleng dan sendang itu yang oleh warga sekitaran disebut dengan Sendang Jimbung, ” cerita Pak Projo lebih jauh. 

Sejak mulai saat itu ia tinggal di daerah yang waktu itu masih tetap sunyi belum juga banyak penghuninya. Yang menarik, Joko Poleng tiap-tiap malam Jum’at Kliwon kerjakan tirakat lewat langkah berendam atau kungkum di sendang. 

Setiap waktu tirakat ia lebih gemari merubah bentuk jadi seekor bulus. Dengan maksud agar tidak terganggu oleh orang yang saksikan. Sampai satu waktu ada salah seorang yang saksikan dirinya sedfng tirakat berendam. Tetapi menurut pandangan orang waktu itu ia saksikan semuanya tubuh Joko Poleng berwarna belang-belang dengan bentuk serupa kulit bulus. Sejaksaat itu hadirnya Joko Poleng tidak di kenali oleh warga. Atau detailnya Joko Poleng waktu itu seperti hilang ditelan bumi tidak ada seorangpun yang tahu keberadaannya. Tidak tahu meninggal dunia atau belum juga, warga saat itu tidak memahami. 

“Semenjak saat itu baik sendang maupun mitos sosok Joko Poleng melegenda dan sekian keramat, ” demikian informasi Pak Projo. 

Berbarengan dengan mengembangnya mitos keangkeran, kekeramatan serta keampuhan yang diakui sebagian pemburu pesugihan sehubungn dengan Sendang Jimbung, mereka juga bersama kerjakan tirakat atau ritual di sendang ini. Ada banyak prasyarat yang butuh dipenuhi sebagian pencari pesugihan. Satu diantaranya yakni, mereka harus menyiapkan sesajen yang diinginkan. Misalnya, satu gelas air putih yang di isi kembang setaman, sebatang rokok klobot, kemenyan, tanah rumah pencari pesugihan yang butuh dibungkus dengan kain kafan. Persyaratan itu diletakkan di bawah pohon di dekat sendang. Lalu mereka berendam/kungkum di sendang. Mulainya harus malam Jum’at Kliwon. 

Prasyarat yang beda yakni, buat mereka yang telah dipenuhi harus kerjakan tasyakuran masing-masing bln. syuro di ‘Sendang Jimbung’. Jika ini dilanggar fatal menyebabkan untuk pencari pesugihan itu. Ada pantangan yang butuh dijauhi oleh sebagian pamuja Eyang Poleng, pantangan itu tidak dapat membunuh hewan bulus lewat cara punya niat atau tidak. Karena jika membunuh hewan bulus jadi hidup sang pemuja itu tidak sekian lama, akan mati terlebih dulu jadwal maut yang dijadwalkan datang. Masing-masing malam Jum’at Kliwon si aktor juga tidak dapat absent datang ke sendang, walaupun dia sudah sekses walau tidak dapat lupa. 

“Bila sampai lupa, jadi akan ada seekor bulus yang datang berkunjung ke rumah sang pemuja barusan. Hadirnya pertama bulus ini hanya mengingatkan. Namun jika sampai dua malam Jum’at Kliwon dirinya tidak sowan atau tidak menghadap, jadi dalam bln. itu, sang pemuja akan di panggil untuk menghadap oleh siluman penunggu sendang itu. Otomatis bentuk si pemuja pasti akan berpindah jadi seekor bulus seperti sebagian pemuja Eyang Poleng yang beda yg tidak mematuhi pantangan, ”. 

Masih tetap ada peluang yang beda yaitu mereka yang memuja atau mencari pesugihan di Jimbung dapat di yakinkan sekujur tubuhnya alami cacat sedikit untuk sedikit. Kulit tubuhnya akan terlihat belang-belang. Cacat kulit ini bisa dilihat dengan kasat mata. Pada dasarnya pesugihan bulus jimbung tidak memohon tumbal nyawa baik anggota keluarga pemuja maupun orang yang lain, kecuali pemuja pesugihan itu yang butuh menanggung resikonya. Dalam arti peluang yang telah diterangkan diatas. 

“Yang pasti, nanti jika pemuja pesugihan bulus jimbung meninggal dunia, arwah serta rohnya tidak selekasnya dibawa malaikat menghadap Tuhan, namun akan disabotase oleh komune siluman yang berwujud binatang yang gemari menyembunyikan bagian kepalanya itu. Dengan hal itu lewat cara resmi ia sah jadi anggota siluman sesat yang diketuai oleh Eyang Poleng”. 

Di antara fakta yang berjalan pada pemuja Bulus Jimbung. Pemuja pesugihan ini yaitu teman dekat Bapaknya itu, tetapi satu kampung dengan lelaki yang gemari gunakan peci hitam ini. Partnernya itu pada awalnya sudah diingatkan oleh Bapaknya sebelumnya lakukan ritual pesugihan. Namun karena rapuhnya keimanan sang rekanan, selanjutnya dia membulatkan tekad untuk kerjakan tirakat di sendang Jimbung. 

Setelah beberapa malam Jum’at Kliwon kerjakan ritual di sendang Jimbung, kehidupan rekanan Bapaknya itu itu memang berkembang cepat. Dia berhasil mempunyai satu unit mesin penggiling padi. Setahun lebih lantas partnernya barusan mempunyai 3 buah truk pengangkut padi, sampai warga sekitaran mengatakannya dengan julukan juragan beras. 

Namun jika diolahti, berbarengan kesuksesan duniawi yang berhasil diraihnya, kenyataannya disertai juga dengan tanda tanda ganjui di sekujur tubuhnya. “Ya, sekujur kulitnya berpindah jadi belang-belang, sampai buat warga malas untuk berdekatan dengan dirinya, dan kemudian dia diasingkan oleh sebagian warga, ” tandas narasi dari si Bapaknya itu. 

Sekianlah, mudah-mudahan berikan ide serta menaikkan pengetahuan untuk Anda Semuanya.

Baca Juga

Kisah Nyata Akibat Pesugihan bulus jimbung meninggal
4/ 5
Oleh
Tampilkan Komentar
Sembunyikan